Search

Senin, 23 Desember 2013

Ketika Manusia Berdo’a (dapat dari sebelah...)

»• Ketika manusia berdo'a, "Ya اَللّهُ berilah aku kesabaran."
Dan اَللّهُ berkata, "Tidak, kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan, tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri."
»• Ketika manusia berdo'a,"Ya اَللّهُ ambillah keSombonganku dariku."
Dan اَللّهُ berkata, "Tidak, bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya."
»• Ketika manusia berdo'a, "Ya اَللّهُ sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat."
 Dan اَللّهُ berkata, "Tidak, Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara."
»• Ketika manusia berdo'a, "Ya اَللّهُ berilah aku kebahagiaan."
 Dan اَللّهُ berkata, "Tidak, Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu."
»• Ketika manusia berdo'a, "Ya اَللّهُ jauhkan aku dari kesusahan."
Dan اَللّهُ berkata, "Tidak, Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada KU."
»• Ketika manusia berdo'a, "Ya اَللّهُ beri aku segala hal yg menjadikan hidup ini nikmat."
Dan اَللّهُ berkata, "Tidak, Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal."
»• Ketika manusia berdo'a, "Ya اَللّهُ bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cintaMU padaku sebagai hamba ciptaanMU...
Dan اَللّهُ berkata, "Akhirnya kau mengerti...!
»• Bahwa اَللّهُ Maha Mengetahui apa yang kita inginkan bukan selalu apa yang kita butuhkan....اَللّهُ sangat mencintai kita, melebihi cinta kita untuk diri kita sendiri...karena boleh jadi yang kita inginkan justru membawa keburukan dan kemudharatan bagi kita dan keluarga.


»• Dan jika اَللّهُ Swt mengambil apa yang kita anggap milik kita (padahal cuma titipan)...jangan tanya mengapa harus saya...!? Karena sesungguhnya اَللّهُ sudah menyiapkan penggantinya yang jauh lebih baik asal kita sabar, yakin dan percaya, sadar, ikhlas dan selalu berbaik sangka/bersih hati atas segala ketentuan dari ...ALLAH SWT.
Wallahu’alam Bissawab..

Minggu, 22 Desember 2013

'Idul Fithri 2011

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar..
Laa Ilaaha illAllaah Huwallaahu Akbar.. Allaahu Akbar Wa-Lillaahil-Hamd

Alhamdulillaaahilladzii ahyaanaa ba'da maa amaatanaa wa ilaihin-nusyuur.
Pagi yang cerah saat hari idul fithri waktu itu, badan masih menyisakan sisa-sisa kecapekan karena seabreg aktifitas dimalam takbiran. Namun hal itu tak sebanding kenikmatannya saat masih bisa bertakbir dan bertahmid dihari yang fitri itu.

Tidur semalam memang sengaja kubuat tidak nyenyak dengan membunyikan alarm setiap jamnya, kubuat demikian karena takut gak bisa bangun dan takut juga telat sholat 'Id-nya... :D

Setelah sholat shubuh, panitia sholat Idul Fithri bergerak melaksanakan tugasnya masing-masing. Kala itu aku dapat bagian mengatur shof dan menggelar tikar untuk jamaah. Sebelumnya aku dan panitia yang lain memastikan langit tidak mendung agar nantinya tidak kehujanan. Dan alhamdulillaah hujan tidak turun pada hari itu hingga sholat Id selesai ditegakkan.

Ada satu hal yang sempat terlintas difikiranku saat mengatur shof, banyak diantara jamaah yang tidak mau mengisi shof yang masih kosong.  Berbagai umpatan dan pandangan sinis kepadaku dilontarkan sebagian jamaah yang enggan untuk diatur shof-nya. Saat itulah aku mulai sadar, bagaimana sulitnya seorang pemimpin yang menghadapi berbagai jenis sifat manusia yang berbeda-beda dan harus menerima konsekuensi terburuk akibat dari kesalahan manusia yang dipimpinnya.

Wallaaahu a'lam..

The Manic Society

Ya Tuhan, anugerahilah aku kesabaran dan keuletan menghadapi beban hidup yang terasa kian berat menghimpit hati serta pikiran sehingga hampir setiap hari saya selalu mengeluh dan bahkan bertengkar dengan orang-orang di sekelilingku sehingga hidupku menjadi tidak produktif dan tidak tenang.

Coba baca dengan cermat dan pelan-pelan ungkapan doa di atas, lalu dianalisis psikologi orang yang memanjatkan doa itu. Mungkin sekali dia tengah merindukan kehidupan yang tenang, tertib, dan damai di tengah suasana sosial yang membuatnya serbaterburuburu. Namun dalam penulisan dan ucapan doa di atas terjadi sebuah paradoks.

Doa yang mestinya diucapkan dengan tenang dan khusyuk di hadapan Tuhan, tetapi emosinya tak terkendali, serba terburuburu, tergesa-gesa sehingga muncul jarak akal dan perasaan, antara makna dan rasa. Sebuah kalimat yang indah dan benar jika disampaikan dengan buru-buru, tanpa titik, koma, dan intonasi akan kehilangan makna. Itulah yang dimaksud the manic society.

Katamanic berasal dari mania yang dalam kajian psikologi menunjukkan orang yang bersikap impulsif, serba ingin cepat, buru-buru, obsesif sehingga akal sehatnya tidak bekerja dengan baik karena dikalahkan oleh emosinya.

Meminjam ungkapan Robert Holden, masyarakat kota besar pada umumnya sudah terperangkap ke dalam fast society atau manic society yang selalu menginginkan dan memuja kecepatan. Apa pun yang dianggap baik adalah yang serbacepat. Istilah the manic society ini mengingatkan saya pada firman Tuhan dalam Alquran: “Sesungguhnya manusia itu selalu ingin tergesa-gesa. Wa kana al-insanu ‘ajula” (QS 17:11).

Karena ingin selalu cepat, masyarakat kota yang serbasibuk selalu mencari dan memuja teknologi yang menjanjikan segala sesuatu serbacepat, kilat, ekspres. Orang cenderung memesan foto kilat, titipan kilat, makanan cepat saji, jalan tol, naik pesawat terbang, dan segala sesuatu yang serbainstan kalau bisa sehingga muncul istilah budaya instan. Ini menjadi fatal akibatnya ketika masuk dalam dunia pendidikan, dunia kerja, dan dunia politik.

Orang ingin segera memperoleh titel sarjana dan memperoleh ijazah secara instan sehingga muncul perdagangan titel kesarjanaan. Seorang pegawai ingin segera kaya dan memiliki rumah dan mobil mewah, maka muncul budaya korupsi. Kalau korupsi itu budaya, akankah koruptor nantinya disebut budayawan? Dalam dunia politik juga terlihat. Hanya dengan mengandalkan uang, koneksi keluarga, dan popularitas, sekarang orang ramai-ramai punya mimpi ingin jadi bupati, wali kota, gubernur, dan bahkan presiden, tetapi tidak selalu didukung dengan kompetensi dan kredibilitas.

Orang bisa saja meraih sesuatu dengan kilat, tapi sangat mungkin dalam dirinya terdapat ruang kosong,menganga, yang mestinya diisi kedalaman ilmu, pengalaman panjang,dan integritas. Oleh karenanya orang yang dengan cepat kilat merasa berhasil berdiri di puncak ketinggian, jangan-jangan akan cepat pula proses turun atau kejatuhannya.

Orang Inggris punya ungkapan: easycome, easy go. Apa yang dengan mudah meraihnya, jangan-jangan dengan mudah pula perginya. Atau lebih tepat lagi: fastly come, fastly go. Datangnya cepat, perginya pun cepat. Cepat tidak selalu jelek asal benar-benar disertai kelengkapan dan kehati-hatian. Kalau memang sebuah tugas dan misi bisa dilakukan dengan cepat, mengapa harus pelanpelan dan lambat? Dalam peperangan atau pertandingan sepak bola, siapa yang lebih cepat dan akurat melakukan serangan, mereka yang akan menang.

Tapi yang bahaya adalah jika emosi yang selalu ingin buru-buru meraih kemenangan tanpa disertai nalar sehat dan kesiapan matang, maka kekalahan dan kerugian yang didapat. Demikianlah, maka menarik untuk merenungkan pesan Islam tentang konsep niat dan istiqamah. Tema ini tentunya tidak disengaja dibahas secara mendalam oleh Eckhart Tolle dalam bukunya The Power of Now. Dalam niat, seseorang disadarkan dan diajarkan untuk menghadirkan kesadaran dan eksistensi diri sebagai pusat realitas, membebaskan diri dari gravitasi kemarin dan besok.

Yang ada adalah aku yang mengendalikan realitas sekarang (now) dan di sini (here). Kesadaran akan kedisinian (hereness) dan kekinian (nowness) akan membuat seseorang fokus dan total dalam melakukan sesuatu. Orang yang terbiasa berpikir kontemplatif akan mampu bertahan dari arus dan gelombang the manic society. Dia akan lebih proaktif menciptakan pengaruh bagi lingkungannya, bukannya jadi objek yang dipengaruhi.

Dia akan lebih jeli dan jernih melihat detail-detail yang berlangsung di sekitarnya tanpa kehilangan visi dan peta globalnya. Mendengarkan musik lembut, meditasi, dan berdoa bisa membantu seseorang untuk berpikir dan bersikap lebih tenang. Dalam the manic society yang serbaingin cepat, muncul penyakit sosial Tiga-H, yaitu hurried, hostile, humourless.

Orang selalu ingin buru-buru (hurried), tidak tenang, tidak bisa menikmati suasana kedisinian (hereness) dan kekinian (newness), gelisah, selalu merasa dikejar-kejar waktu. Situasi kejiwaan ini memunculkan sikap hostile, yaitu rasa persaingan, permusuhan, perebutan, kekhawatiran kalah dan tidak kebagian sehingga hidup selalu dibayangi konflik, persaingan.


Dalam panggung politik dan bisnis, hostility ini begitu terlihat. Implikasi dari sikap yang tidak mau ketinggalan dan selalu ingin memenangi persaingan, muncul sikap humourless.Orang kehilangan selera humor.Wajahnya selalu tampak serius, tegang, tidak bisa menikmati suasana rileks dan santai.Akibat lebih lanjut, berbagai penyakit mudah datang.

Menanti kehadiranmu, el-andhofi

Kira-kira delapan sampai sembilan bulan yang lalu dapat kabar gembira yg telah kami nanti-nantikan, alhamdulillaah Allah Subhanaahu wa Ta'alaa memberikan kami (aku dan istriku) amanah yang sebenarnya membuat kami takut. Tentunya takut apakah kelak bisa memberikan yang terbaik buat anak-anak kami dan menjaga dari hal yang membuat Sang Kholiq murka.

Ya...... Allah memberikan kami amanah berupa kehamilan pertama istriku. Kami bersyukur atas karunia ini, do'a dan usaha sepanjang waktu yang tiada henti akhirnya terkabul juga.

Mulailah kami sibuk menyambut dan mempersiapkan segala sesuatu yang telah kami planningkan. Dimulai dengan beberapa nadzar sekaligus ucapan syukur apabila istriku hamil yaitu menyembelih dua ekor kambing dan kami bersyukur nadzar itu telah terlaksana.

Selain itu kami juga rutin untuk mengontrol kehamilan, ingin tahu bagaimana perkembangannya, nutrisi apa yg dibutuhkan buat istri dan anak, dan yang ditunggu yaitu jenis kelamin sikecil, namun kami tidak memilih jenis kelamin apa yang diberikan kepada sikecil. Sing penting sholeh-sholehah, selamet, sugeng lan wilujeng dunyo akhirate...

Hal yang paling mengasyikkan buat kami adalah mempersiapkan nama buat calon jabang bayi, otak-atik kata dari A sampai Z, searching di mbah gugel, dan mencari referensi dari beberapa sosial media telah kami coba dan alhamdulillaah kami dapatkan nama yang insya Allah memberikan kebaikan bagi semua umat manusia, hehehehhe... *aamiiin...

Sekarang tinggal menunggu hari-H, dilema sebenarnya saat harga pesawat naik karena libur akhir tahun masehi dan jumlah cuti yang minim. Namun aku tetap harus menjaga profesionalisme pekerjaanku karena alhamdulillaah dari (pertolongan Allah) inilah bisa sedikit menggantikan posisi almarhum bapak untuk membahagiakan keluarga besarku terutama orang tua kami, adik-adik, dan keluarga kecilku.

Dan do'a terakhirku.. semoga nantinya aku bisa menemani istriku saat persalinan.
Tunggu abi yaa naaaak........